Menko Marves Luhut Antara Big Data dan Big Dusta

Mahasiswa pun tetap bersikukuh menuntut Luhut membuka big data tersebut karena hal ini menurut mereka juga sesuai aspirasi masyarakat Indonesia.

Menko Marves Luhut Antara Big Data dan Big Dusta

SIBERITA.ID | Big data kembali menjadi perbincangan panas setelah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mendesak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membukanya.

Luhut Padjaitan muncul di universitas tersbaik itu pada Selasa, 12 April 2022 setelah demo serentak digelar Senin, 11 April 2022 di Depok, Jawa Barat. Kehadiran Luhut Padjaitan dalam rangka memberi kuliah umum.

Luhut Pandjaitan sempat adu argumentasi saat menemui sejumlah mahasiswa UI usai memberi kuliah umum.

Dalam pertemuan mendadak tersebut, mahasiswa menuntut Luhut membuka big data yang sebelumnya menjadi bahan bagi menteri kelahiran Simargala, Sumatera Utara itu menyampaikan informasi ke publik perihal klaim adanya keinginan masyarakat Indonesia terhadap penundaan Pemilu 2024.

"Coba kami minta pembukaan big datanya, kawan-kawan sepakat," kata seorang juru bicara mahasiswa UI disambut kata sepakat oleh rekan-rekannya.

Mendengar permintaan para mahasiswa tersebut, Luhut secara tegas menolaknya. "Kau sepakat, kalau saya enggak sepakat, boleh kan? Kita boleh beda pendapat, enggak," jawab Luhut Binsar Pandjaitan.

Mahasiswa pun tetap bersikukuh menuntut Luhut membuka big data tersebut karena hal ini menurut mereka juga sesuai aspirasi masyarakat Indonesia.

"Dengarin, kamu anak muda, kamu enggak berhak juga menuntut saya karena saya juga punya hak untuk bilang enggak (membuka big data)," jelas mantan Kepala Staf Kepresidenan itu.

Sebelumnya. Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Feri Amsari meragukan klaim Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan tentang big data berisi 110 juta warganet menginginkan penundaan Pemilu 2024.

Pegiat antikorupsi itu menyebut klaim menteri kepercayaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut sebagai kebohongan. "Jadi, big data menjadi big dusta," kata Feri.